Alika
Di tengah heningnya malam dibawah cahaya
rembulan yang meneduhkan aku bersimpuh memandang ke langit dengan detakan
jantung yang berdebar memuji Asma Mu.Duhai Allah terimakasih aku menjadi tenang
Oleh Citra AshriMaulidina
Diantara
hembusan angin fajar pagi itu.Alika berjalan menyusuri dinginnya air pantai
Cemara di bilangan Bantul, Jogjakarta. Berharap bahwa semakin dia berjalan jauh
maka akan semakin menghilang dalam hidup. Pergi untuk tidak pernah
kembali.“Kalau aku harus memilih arah, semoga ini arah yang baik untuk
menyelesaikan segala yang telah aku mulai sampai pada akhirnya Tuhan memeluku
dengan erat” Tutur hati kecilnya dengan diselimuti perasaan gelisah.
Matanya
terpejam dan dia terus berjalan menyusuri deru ombak.Semakin kakinya melangkah
jauh maka rasa takut itu semakin membuncah pada hati kecilnya.Alika membuka
kedua matanya dan memandang ke atas langit. Pagi itu ia hanya berdua dengan
alam. Sudah lima hari ia memutuskan untuk pergi dari rumahnya di bilangan Barat
Jakarta. Tanpa kabar dan dengan alasan ingin menyendiri. Bahkan alat
komunikasinya pun sengaja ia matikan agar tidak ada satupun keluarga atau
kerabat yang menghubunginya. Kesengajaan yang bodoh dilakukan Alika hanya untuk
mengakhirkan hidupnya atas satu nama. “Cinta”
Alika,
Kalau saja mata hatinya dapat melihat kebenaran dan kebaikan dengan utuh.Air
mata yang membasahi pipinya yang memerah seakan menjadi saksi ketidakkuasaan
bahwa hati manusia sebenarnya ada satu titik menjadi lemah tanpa arah. Wanita
yang kini usianya beranjak 21 tahun dengan tinggi yang semampai serta matanya
yang segaris, ia lebih dikenal seperti artis cantik di serial drama Korea juga
kulitnya yang putih bersih, aura kecantikanya selalu terpancar dari wajahnya
yang bersinar. Alika tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah dengan
menanggalkan hijab yang selalu menutupi dadanya.
Tidak
selamanya cinta pertama jatuh pada orang yang tepat. Dio, dia adalah salah satu
alasan seorang Afika yang cukup berprestasi di kampusnya dengan mudah berubah
setelah melewati proses tiga tahun perkenalan. Singkat cerita Alika dan Dio
adalah sepasang sekasih yang mulai menjalin hubungan sejak semester awal bangku
perkuliahan. Mereka bagai dua elemen yang tidak pernah terpisahkan, Dio tidak
akan membiarkan wanita yang paling dicintainya pergi seorang diri.
Mereka
berkomitmen untuk menikah. Bukan Dio namanya jika tidak mengumbar janji manis
yang dapat melemahkan hati wanita jika mendengar atau membaca pesanya. Ada satu
rutinitas pesan singkat yang selalu Dio utarakan sebelum matanya terpejam.
“Bidadariku sayang, aku hanya selalu dan akan mencintaimu sampai nanti Tuhan
izinkan kita menjadi halal, maka menikahimu adalah hal terindah bagiku” Alika
pun akan tersenyum manis dengan dencah kagum seraya berdoa di dalam hati,
“Aamiin ya Rabbalalamin”tuturnya. “Insyaallah Dio calon suamiku yang aku sangat
berterimakasih Tuhan telah mengirimu untuku” balas Alika.Itu asalah satu dari
untaian kata berbeda yang selalu Dio kirimkan setiap harinya tetapi tetap janji
untuk menikahi Alika pun tidak pernah lupa Dio utarakan setiap harinya.
Ada
kupu-kupu biru keemasan dengan elok terbang mengelilingi bunga yang bermekaran
pada salah satu taman di bilangan pusat Jakarta. Alika memilih menghabiskan
waktu libur akhir pekannya bersama alam. Tentu bukan Alika Maharani namanya
jika pergi sendiri tanpa Dio yang disisinya. Siang itu Dio menggenggam tangan
Alika cukup erat seraya berkata “Alika, bidadariku terimakasih karena bagiku
kamu segalanya” seketika tangan kanannya mengeluarkan sekuntum bunga mawar
putih dan berkata “Menikahlah denganku Alika”. Seharusnya kata menikah bukanlah
sekedar kata-kata manis yang mudah diutarakan karena sejatinya cinta adalah
sebuah tanggung jawab yang sungguh berat. Hati wanita mana yang tidak menjadi
lemah jika seorang pria berlutut di depannya juga menggenngam tangannya erat
seraya mengajak untuk mengikat janji suci.“Janji yang jika diutarakan
sesungguhnya Arsy Allah bergetar karena ijab Qabul yang sungguh mulia.
Dengan
penuh kemantapan Alika menjawab “jangan Tanya aku Dio sungguh aku mau” Keadaan
yang semakin menjelang malam hari itu memaksa mereka untuk kembali pulang.Hari
yang tidak terlupakan bagi Alika. Meskipun Dio sering mengucapkan kata-kata
manis yang akan menikahinya kali ini baru kali pertama bagi Alika ketika Dio
sungguh romantis di depan banyak orang yang berlalu lalang di taman.
Semakin
hari kedekatan mereka tidak pernah memudar, Meskipun begitu Alika selalu
menjaga apa yang seharusnya dijaga dari seorang wanita yaitu “kehormatan”. Dio
pun juga berlaku sama meskipun terkadang ketika kedua mahluk Tuhan bersama
tanpa ada orang ketiga kecuali setan yang menjadi temanya seakan menjadi godaan
terberat.
Kedekatan
mereka juga didukung oleh restu dari kedua orang tua, seharusnya kebahagiaan
mereka menjadi lengkap dalam segala harapan yang dibangun.Sayangnya tidak
selamanya harapan harus selalu menjadi nyata. Tidak selamanya kisah cinta harus
berakhir indah seperti kisah Cinderela yang akhirnya bahagia bersama sang
pangeran.
Pertemuan
Alika dan Dio pada satu hari di bulan November tahun 2012 menjadi kenangan yang
teramat pahit karena ternyata pernikahan yang diharapkan hanyalah angan. Alika
sudah menyimpan nama Dio dengan baik di dalam hatinya tanpa ada satu lelaki pun
yang berhasil merebut posisi Dio dihatinya. Sayangnya rasa kecewa semakin tidak
terbendung ketika Alika harus menerima kenyataan bahwa Dio harus menikah minggu
depan. Sungguh mendadak dan keputusan yang tidak bisa diterima untuknya.
“Maafkan
aku Alika, aku hanya manusia lemah dan imanku sedang ada di titik terendah.Aku
harus menikah dengan Anggi karena sebuah tanggung jawab” tutur Dio.Pembicaraan
di Kafe malam itu sungguh bukan percakapan biasa selain kekecewaan yang harus
ditelan pahit oleh Alika. Dio, pria yang paling dicintainya telah
menghianatinya karena satu malam di titik terendahnya sehingga ia harus
bertanggung jawab atas bayi yang dikandung di Rahim perempuan lain.
Mendengar
itu semua Alika hanya diam ditemani rasa tidak percaya yang membuncah atas apa
yang telah diucapkan Dio kepadanya. Padahal sesuai rencana seharusnya Desember
bulan depan mereka akan menyewa gedung untuk resepsi pernikahnya di tahun 2013.
Kepahitan yang harus dibayar Alika setelah kesetiaanya kepada Dio selama tiga
tahun harus dibayar dengan kenyataan yang memuakan.
Sepulang
dari pertemuannya dengan Dio malam itu.Matanya bengkak dan memerah karena
menangis sepanjang jalan.Kakinya serasa tidak ingin lagi menapaki bumi dan
tanganya kaku keram bagaikan sudah tidak bisa menyentuh apapun yang ada di
sekelilingnya. Bahkan ia harus menerima telepon ayahnya dengan penuh gemetar.
Sampai
dengan kebodohanya ia meninggalkan semua yang ada di Jakarta untuk pergi
selama-lamanya ke satu titik yaitu “mati”. Jogja menjadi pilihanya untuk
mengubur segala kenangan manis tentang Dio.
Pantai
Camara siang itu, setelah ia memejamkan mata dan terus berjalan hatinya seakan
tersayat dan menangis. Perlahan ia mundur dan mulai menyadari bahwa. Seharusnya
ia malu dengan jilbab yang dikenakanya, seharusnya ia malu dengan identitasnya
sebagai muslimah. Entah bisikan darimana di hati kecilnya ia merasa sungguh
bodoh dan tidak percaya akan kebesaran Allah yang Maha Agung. Kakinya melangkah
mundur melawan arus ombak sampai pada pinggir pantai kebodohannya mulai
berhenti.Ia terdiam dan memikirkan hidupnya yang seharusnya tidak ia habiskan
hanya karena laki-laki yang tidak dapat menahan hawa nafsunya sehingga
menghamili wanita lain.
“Bukankah
seharusnya aku malu”tuturnya dalam hati. Tidak kuasa di hamparan pantai dengan
pasir putih yang indah ia bersujud menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada
Rabbnya dan tersadar. “ Ya Rabb apakah ini maksud Engkau memeluku ketika
HambaMu yang lemah ini merasakan malu pada hati kecil”
Alika
berjalan kembali ke tempat dimana ia menginap, dengan sekejap ia meraih telepon
genggam miliknya dan menghubungi keluarganya yang ada di rumah. Ayahnya, sontak
begitu bahagia menerima telefon dari putri sulungnya yang tidak kunjung ada
kabarnya selama seminggu pergi.“Pulang nak, mari kita sama-sama ke makam ibumu”
tutur ayahnya dari balik telefon.Alika tertunduk dan menjerit. Telepon
dimatikanya dan tanpa berfikir panjang ia langsung memilih untuk pulang ke
Jakarta dengan bis malam itu.
Pagi
menjelang, Alika sudah sampai di stasiun Rawamangun di bilangan timur Jakarta.
Selama di perjalan tidak ada hal lain yang ia lakukan selain menangis dan
berdoa juga berharap bahwa apa yang diucapkan ayahnya adalah sebuah kebohongan.
Sesampainya
di rumah ayahnya benarlah bahwa ayahnya menyambutnya dengan wajah masam seraya
berkata “Ibumu mencarimu dengan sepeda motor tanpa sepengetahuan ayah karena
kekhawatiranya atas dirimu Alika, kekhawatiranya harus terbayar dengan diriya
yang tertabrak Mobil di Cipete, malam itu. Kepanikan ibu akan kamu sebagai anak
perempuan satu-satunya harus membawanya pergi selama-lamanya” Alika bersimpuh
di hadapan ayahnya seraya menangis dan berharap bahwa kebodohannya dapat
dikembalikan waktu sehingga pergi tidak menjadi pilihanya karena Dio, sayangnya
waktu berkata lain. Ibu Alika pergi menghadap Ilahi Rabbi untuk selamanya tanpa
belum sempat ia bahagiakan.
Padahal
seharusnya Alika fokus pada tugasnya di semester akhir sehingga ibunya dapat
melihatnya memakai toga dengan penuh rasa bahagia.Harapan menjadi angan.Alika mencium
tanah kuburan ibunya pada siang itu seraya meminta maaf tiada henti. Seharusnya
juga bulan ramadhan ini menjadi bulan yang penuh berkah bagi setiap muslim yang
mengimani Tuhanya. Kenyataan pahit harus diterima Alika dengan kehilangan ibu
yang paling dicintainya, lagi-lagi karena seorang lelaki yang mengatasnamakan
cinta yang rela mengecewakanya dengan nafsunya yang menggebu dengan kejadian
sehari semalam bersama perempuan lain.
Sampai
pada akhirnya ada seorang Dina seorang sahabatnya , lama ia tinggalkan Dina
semenjak berhubungan dengan Dio akan tetapi kesolehan Dina membuatnya untuk
tidak memutuskan tali silahturahmi kepada siapa pun termasuk Alika sahabatnya.
Dina mengingatkanya “ Segala Amal tergantung pada akhirnya, Cukup Umar Bin
Khatab Alika yang menjadi salah satu contoh bahwa manusia sekelam apapun bisa
berbuah, manusia yang hamper membunuh Rasul Allah seketika masuk islam karena
kelembutan Rasul dan begitu dihargai bahkan iblis pun takut kepadanya” Allah
lah penggenggam hidayah dan pengalaman yang mengajarkan Alika untuk bangkit,
bertepatan dengan hari di bulan Ramadhan pada waktu itu Alika seakan menemukan
cahaya sebagai seorang muslim yang bangkit kembali.
Ramadhan
membawa Alika pada satu titik bersimpuh. Kembali bertanya pada hati untuk
apa dirinya hidup. Tidak ada satu keajaiban yang luar biasa selain
takala Allah telah memperlihatkan cahayaNya yang luar biasa dalam
dekapandinginyamalam.
Sampai
pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke satu titik, dimana baginya akan
merasakan kedamaiandalamhati yang seakanmati. Dibawahheningnyamalamdalamdekapan
angin sepoi sehingga keteduhan sungguh terasa.Beritikaf di masjid Istiqlal yang
merupakan masjid terbesar se Asia Tenggara menjadi pilihanya.Dibawah cahaya
bulan juga lampu sorot berwarna biru yang terlihat dari sudut tengah masjid
yang menjadi icon Indonesia ini. Sehinggasampai pada akhirnya terselip untaian
kata yang terbesit di dalam hati gadis cantik bernama Alika Maharani
Tidak ada lagi kata untuk berucap karena
ternyata cukup satu penutuntunku dialah Allah. Aku
menangis dan bersimpuh dalam ketenangan.
Apakah Allah akan sepenuhnya memaafkan segala
dosa yang selalu aku perbuat. Aku malu
duhai Tuhanku.
Bukankah yang baik adalah baik dan
mutlak.
Kebaikan dan keburukan bukanlah sebuah
hal yang relatif tetapi mutlaka adanya.
Yang telah Allah gariskan dalam
firmannya
Yang telah Allah gariskan dalam wahyu
kepada Nabi-Nya.
Bahkan aku terkadang menjadi diam, dalam
fikir.
Bahwa beragama bukan hanya tentang
meyakini.
Tetapi menjalani apa yang Tuhan gariskan
dan apa yang Tuhan tetapkan.
Maha Suci Allah diatas segala-segalanya
yang telah menetapkan apa yang ditetapkan.
Bukankah diantara hamparan malam,
menjadi saksi bahwa bintang dan bulan datang diantara matahari yang
meninggalkan bumi.
Bahwa Langit tidaklah bergerak dengan
sendirinya, begitu indah.Begitu sederhana bukti kekuasaan yang Allah
gariskan.Akan tetapi sungguh sedikit yang menyadari.
Hari berganti hari, apa kabar hati?
Bulan berganti bulan, apa kabar raga?
Tahun berganti tahun, apa kabar jiwa?
Di dalam kebaikan terselip makna bahwa
itu indah
Di dalam keburukan terselip makna bahwa
itu belum baik.
Duhai hati, tanya lagi.
untuk apa aku hidup.
Untaian
kata yang terbesit dalam hati Alika sampai akhirnya air matanya terus mengalir
membasahi pipinya yang cubby.Alika
membayar semua penyesalanya dengan melakukan banyak kebaikan sampai pada
akhirnya ia lulus dengan predikat skripsi terbaik di kampusnya juga beberapa
buku yang terbit yang Allah izinkan. Sehingga pada akhirnya ia mengakui
kebesaran Tuhanya bukan hanya dengan iman tetapi juga amal dan berbagi.
Ramadhan mengembalikan Alika pada satu titik meskipun ia harus kehilangan
ibunya tetapi menyadarkanya banyak tentang arti untuk apa ia hidup.
Bahwa
siraman Rohani selama ramadhan menyadarkanya bahwa bagaimana seharusnya menjadi
seorang muslimah.Bahwa bagaimana seharusnya hidup dalam aturan Allah di bumi
Allah.Bahwa di setiap kesullitan pasti terselip kemudahan juga tidaklah Allah
memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.Keajaiban yang membawanya
untuk tidak jadi mengakhiri hidup dan bangkit dari keterpurukan juga bertepatan
dengan bulan keagungan Ramadhan menjadikan malam Alika selalu bersujud penuh
harap. Sampai kebaikan yang selalu membawa kebaikan mengantarkanya bertemu
dengan sesosok lelaki yang mengajaknya menuju hubungan yang dihalalkan Allah
dengan proses taaruf dilanjutkan dengan khitbah dan menikah. Proses bangkit
sungguh tidaklah mudah tetapi Alika menemukan jalan Allah kembali dan Allah
memberikanya segala kebaikan bagi setiap hambaNya yang dikehendaki. Maha Besar
Allah diatas segala-galanya.
0 komentar:
Posting Komentar