Minggu, 04 Januari 2015

Alika


Di tengah heningnya malam dibawah cahaya rembulan yang meneduhkan aku bersimpuh memandang ke langit dengan detakan jantung yang berdebar memuji Asma Mu.Duhai Allah terimakasih aku menjadi tenang
Oleh Citra AshriMaulidina

Diantara hembusan angin fajar pagi itu.Alika berjalan menyusuri dinginnya air pantai Cemara di bilangan Bantul, Jogjakarta. Berharap bahwa semakin dia berjalan jauh maka akan semakin menghilang dalam hidup. Pergi untuk tidak pernah kembali.“Kalau aku harus memilih arah, semoga ini arah yang baik untuk menyelesaikan segala yang telah aku mulai sampai pada akhirnya Tuhan memeluku dengan erat” Tutur hati kecilnya dengan diselimuti perasaan gelisah.


Matanya terpejam dan dia terus berjalan menyusuri deru ombak.Semakin kakinya melangkah jauh maka rasa takut itu semakin membuncah pada hati kecilnya.Alika membuka kedua matanya dan memandang ke atas langit. Pagi itu ia hanya berdua dengan alam. Sudah lima hari ia memutuskan untuk pergi dari rumahnya di bilangan Barat Jakarta. Tanpa kabar dan dengan alasan ingin menyendiri. Bahkan alat komunikasinya pun sengaja ia matikan agar tidak ada satupun keluarga atau kerabat yang menghubunginya. Kesengajaan yang bodoh dilakukan Alika hanya untuk mengakhirkan hidupnya atas satu nama. “Cinta”

Alika, Kalau saja mata hatinya dapat melihat kebenaran dan kebaikan dengan utuh.Air mata yang membasahi pipinya yang memerah seakan menjadi saksi ketidakkuasaan bahwa hati manusia sebenarnya ada satu titik menjadi lemah tanpa arah. Wanita yang kini usianya beranjak 21 tahun dengan tinggi yang semampai serta matanya yang segaris, ia lebih dikenal seperti artis cantik di serial drama Korea juga kulitnya yang putih bersih, aura kecantikanya selalu terpancar dari wajahnya yang bersinar. Alika tidak pernah sekalipun meninggalkan rumah dengan menanggalkan hijab yang selalu menutupi dadanya.

Tidak selamanya cinta pertama jatuh pada orang yang tepat. Dio, dia adalah salah satu alasan seorang Afika yang cukup berprestasi di kampusnya dengan mudah berubah setelah melewati proses tiga tahun perkenalan. Singkat cerita Alika dan Dio adalah sepasang sekasih yang mulai menjalin hubungan sejak semester awal bangku perkuliahan. Mereka bagai dua elemen yang tidak pernah terpisahkan, Dio tidak akan membiarkan wanita yang paling dicintainya pergi seorang diri.

Mereka berkomitmen untuk menikah. Bukan Dio namanya jika tidak mengumbar janji manis yang dapat melemahkan hati wanita jika mendengar atau membaca pesanya. Ada satu rutinitas pesan singkat yang selalu Dio utarakan sebelum matanya terpejam. “Bidadariku sayang, aku hanya selalu dan akan mencintaimu sampai nanti Tuhan izinkan kita menjadi halal, maka menikahimu adalah hal terindah bagiku” Alika pun akan tersenyum manis dengan dencah kagum seraya berdoa di dalam hati, “Aamiin ya Rabbalalamin”tuturnya. “Insyaallah Dio calon suamiku yang aku sangat berterimakasih Tuhan telah mengirimu untuku” balas Alika.Itu asalah satu dari untaian kata berbeda yang selalu Dio kirimkan setiap harinya tetapi tetap janji untuk menikahi Alika pun tidak pernah lupa Dio utarakan setiap harinya.

Ada kupu-kupu biru keemasan dengan elok terbang mengelilingi bunga yang bermekaran pada salah satu taman di bilangan pusat Jakarta. Alika memilih menghabiskan waktu libur akhir pekannya bersama alam. Tentu bukan Alika Maharani namanya jika pergi sendiri tanpa Dio yang disisinya. Siang itu Dio menggenggam tangan Alika cukup erat seraya berkata “Alika, bidadariku terimakasih karena bagiku kamu segalanya” seketika tangan kanannya mengeluarkan sekuntum bunga mawar putih dan berkata “Menikahlah denganku Alika”. Seharusnya kata menikah bukanlah sekedar kata-kata manis yang mudah diutarakan karena sejatinya cinta adalah sebuah tanggung jawab yang sungguh berat. Hati wanita mana yang tidak menjadi lemah jika seorang pria berlutut di depannya juga menggenngam tangannya erat seraya mengajak untuk mengikat janji suci.“Janji yang jika diutarakan sesungguhnya Arsy Allah bergetar karena ijab Qabul yang sungguh mulia.

Dengan penuh kemantapan Alika menjawab “jangan Tanya aku Dio sungguh aku mau” Keadaan yang semakin menjelang malam hari itu memaksa mereka untuk kembali pulang.Hari yang tidak terlupakan bagi Alika. Meskipun Dio sering mengucapkan kata-kata manis yang akan menikahinya kali ini baru kali pertama bagi Alika ketika Dio sungguh romantis di depan banyak orang yang berlalu lalang di taman.

Semakin hari kedekatan mereka tidak pernah memudar, Meskipun begitu Alika selalu menjaga apa yang seharusnya dijaga dari seorang wanita yaitu “kehormatan”. Dio pun juga berlaku sama meskipun terkadang ketika kedua mahluk Tuhan bersama tanpa ada orang ketiga kecuali setan yang menjadi temanya seakan menjadi godaan terberat.

Kedekatan mereka juga didukung oleh restu dari kedua orang tua, seharusnya kebahagiaan mereka menjadi lengkap dalam segala harapan yang dibangun.Sayangnya tidak selamanya harapan harus selalu menjadi nyata. Tidak selamanya kisah cinta harus berakhir indah seperti kisah Cinderela yang akhirnya bahagia bersama sang pangeran.

Pertemuan Alika dan Dio pada satu hari di bulan November tahun 2012 menjadi kenangan yang teramat pahit karena ternyata pernikahan yang diharapkan hanyalah angan. Alika sudah menyimpan nama Dio dengan baik di dalam hatinya tanpa ada satu lelaki pun yang berhasil merebut posisi Dio dihatinya. Sayangnya rasa kecewa semakin tidak terbendung ketika Alika harus menerima kenyataan bahwa Dio harus menikah minggu depan. Sungguh mendadak dan keputusan yang tidak bisa diterima untuknya.

“Maafkan aku Alika, aku hanya manusia lemah dan imanku sedang ada di titik terendah.Aku harus menikah dengan Anggi karena sebuah tanggung jawab” tutur Dio.Pembicaraan di Kafe malam itu sungguh bukan percakapan biasa selain kekecewaan yang harus ditelan pahit oleh Alika. Dio, pria yang paling dicintainya telah menghianatinya karena satu malam di titik terendahnya sehingga ia harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandung di Rahim perempuan lain.

Mendengar itu semua Alika hanya diam ditemani rasa tidak percaya yang membuncah atas apa yang telah diucapkan Dio kepadanya. Padahal sesuai rencana seharusnya Desember bulan depan mereka akan menyewa gedung untuk resepsi pernikahnya di tahun 2013. Kepahitan yang harus dibayar Alika setelah kesetiaanya kepada Dio selama tiga tahun harus dibayar dengan kenyataan yang memuakan.
Sepulang dari pertemuannya dengan Dio malam itu.Matanya bengkak dan memerah karena menangis sepanjang jalan.Kakinya serasa tidak ingin lagi menapaki bumi dan tanganya kaku keram bagaikan sudah tidak bisa menyentuh apapun yang ada di sekelilingnya. Bahkan ia harus menerima telepon ayahnya dengan penuh gemetar.

Sampai dengan kebodohanya ia meninggalkan semua yang ada di Jakarta untuk pergi selama-lamanya ke satu titik yaitu “mati”. Jogja menjadi pilihanya untuk mengubur segala kenangan manis tentang Dio.

Pantai Camara siang itu, setelah ia memejamkan mata dan terus berjalan hatinya seakan tersayat dan menangis. Perlahan ia mundur dan mulai menyadari bahwa. Seharusnya ia malu dengan jilbab yang dikenakanya, seharusnya ia malu dengan identitasnya sebagai muslimah. Entah bisikan darimana di hati kecilnya ia merasa sungguh bodoh dan tidak percaya akan kebesaran Allah yang Maha Agung. Kakinya melangkah mundur melawan arus ombak sampai pada pinggir pantai kebodohannya mulai berhenti.Ia terdiam dan memikirkan hidupnya yang seharusnya tidak ia habiskan hanya karena laki-laki yang tidak dapat menahan hawa nafsunya sehingga menghamili wanita lain.

“Bukankah seharusnya aku malu”tuturnya dalam hati. Tidak kuasa di hamparan pantai dengan pasir putih yang indah ia bersujud menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Rabbnya dan tersadar. “ Ya Rabb apakah ini maksud Engkau memeluku ketika HambaMu yang lemah ini merasakan malu pada hati kecil”
Alika berjalan kembali ke tempat dimana ia menginap, dengan sekejap ia meraih telepon genggam miliknya dan menghubungi keluarganya yang ada di rumah. Ayahnya, sontak begitu bahagia menerima telefon dari putri sulungnya yang tidak kunjung ada kabarnya selama seminggu pergi.“Pulang nak, mari kita sama-sama ke makam ibumu” tutur ayahnya dari balik telefon.Alika tertunduk dan menjerit. Telepon dimatikanya dan tanpa berfikir panjang ia langsung memilih untuk pulang ke Jakarta dengan bis malam itu.

Pagi menjelang, Alika sudah sampai di stasiun Rawamangun di bilangan timur Jakarta. Selama di perjalan tidak ada hal lain yang ia lakukan selain menangis dan berdoa juga berharap bahwa apa yang diucapkan ayahnya adalah sebuah kebohongan.

Sesampainya di rumah ayahnya benarlah bahwa ayahnya menyambutnya dengan wajah masam seraya berkata “Ibumu mencarimu dengan sepeda motor tanpa sepengetahuan ayah karena kekhawatiranya atas dirimu Alika, kekhawatiranya harus terbayar dengan diriya yang tertabrak Mobil di Cipete, malam itu. Kepanikan ibu akan kamu sebagai anak perempuan satu-satunya harus membawanya pergi selama-lamanya” Alika bersimpuh di hadapan ayahnya seraya menangis dan berharap bahwa kebodohannya dapat dikembalikan waktu sehingga pergi tidak menjadi pilihanya karena Dio, sayangnya waktu berkata lain. Ibu Alika pergi menghadap Ilahi Rabbi untuk selamanya tanpa belum sempat ia bahagiakan.

Padahal seharusnya Alika fokus pada tugasnya di semester akhir sehingga ibunya dapat melihatnya memakai toga dengan penuh rasa bahagia.Harapan menjadi angan.Alika mencium tanah kuburan ibunya pada siang itu seraya meminta maaf tiada henti. Seharusnya juga bulan ramadhan ini menjadi bulan yang penuh berkah bagi setiap muslim yang mengimani Tuhanya. Kenyataan pahit harus diterima Alika dengan kehilangan ibu yang paling dicintainya, lagi-lagi karena seorang lelaki yang mengatasnamakan cinta yang rela mengecewakanya dengan nafsunya yang menggebu dengan kejadian sehari semalam bersama perempuan lain.

Sampai pada akhirnya ada seorang Dina seorang sahabatnya , lama ia tinggalkan Dina semenjak berhubungan dengan Dio akan tetapi kesolehan Dina membuatnya untuk tidak memutuskan tali silahturahmi kepada siapa pun termasuk Alika sahabatnya. Dina mengingatkanya “ Segala Amal tergantung pada akhirnya, Cukup Umar Bin Khatab Alika yang menjadi salah satu contoh bahwa manusia sekelam apapun bisa berbuah, manusia yang hamper membunuh Rasul Allah seketika masuk islam karena kelembutan Rasul dan begitu dihargai bahkan iblis pun takut kepadanya” Allah lah penggenggam hidayah dan pengalaman yang mengajarkan Alika untuk bangkit, bertepatan dengan hari di bulan Ramadhan pada waktu itu Alika seakan menemukan cahaya sebagai seorang muslim yang bangkit kembali. 

Islam telah mengembalikan Alika pada jalan yang sesungguhnya kedamaian dan ketenangan.Bahwa agama adalah nasihat untuk manusia maka agama adalah sebaik-baiknya pedoman hidup.Baginya kini Allah adalah segala penentu kehidupan manusia.Demi matahari dengan pancaran cahaya siangnya dan demi bulan dengan malam yang mengiringinya.Sungguh beruntung orang yang senantiasa menyucikan jiwa.

Ramadhan membawa Alika pada satu titik bersimpuh. Kembali bertanya pada   hati untuk  apa dirinya hidup. Tidak ada satu keajaiban yang luar biasa selain takala Allah telah memperlihatkan cahayaNya yang luar biasa dalam dekapandinginyamalam.

Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke satu titik, dimana baginya akan merasakan kedamaiandalamhati yang seakanmati. Dibawahheningnyamalamdalamdekapan angin sepoi sehingga keteduhan sungguh terasa.Beritikaf di masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar se Asia Tenggara menjadi pilihanya.Dibawah cahaya bulan juga lampu sorot berwarna biru yang terlihat dari sudut tengah masjid yang menjadi icon Indonesia ini. Sehinggasampai pada akhirnya terselip untaian kata yang terbesit di dalam hati gadis cantik bernama Alika Maharani


Tidak ada lagi kata untuk berucap karena ternyata cukup satu penutuntunku dialah Allah. Aku
menangis dan bersimpuh dalam ketenangan. Apakah Allah akan sepenuhnya memaafkan segala
dosa yang selalu aku perbuat. Aku malu duhai Tuhanku.
Bukankah yang baik adalah baik dan mutlak.
Kebaikan dan keburukan bukanlah sebuah hal yang relatif tetapi mutlaka adanya.
Yang telah Allah gariskan dalam firmannya
Yang telah Allah gariskan dalam wahyu kepada Nabi-Nya.
Bahkan aku terkadang menjadi diam, dalam fikir.
Bahwa beragama bukan hanya tentang meyakini.
Tetapi menjalani apa yang Tuhan gariskan dan apa yang Tuhan tetapkan.
Maha Suci Allah diatas segala-segalanya yang telah menetapkan apa yang ditetapkan.
Bukankah diantara hamparan malam, menjadi saksi bahwa bintang dan bulan datang diantara matahari yang meninggalkan bumi.
Bahwa Langit tidaklah bergerak dengan sendirinya, begitu indah.Begitu sederhana bukti kekuasaan yang Allah gariskan.Akan tetapi sungguh sedikit yang menyadari.
Hari berganti hari, apa kabar hati?
Bulan berganti bulan, apa kabar raga?
Tahun berganti tahun, apa kabar jiwa?
Di dalam kebaikan terselip makna bahwa itu indah
Di dalam keburukan terselip makna bahwa itu belum baik.
Duhai hati, tanya lagi.
untuk apa aku hidup.


Untaian kata yang terbesit dalam hati Alika sampai akhirnya air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang cubby.Alika membayar semua penyesalanya dengan melakukan banyak kebaikan sampai pada akhirnya ia lulus dengan predikat skripsi terbaik di kampusnya juga beberapa buku yang terbit yang Allah izinkan. Sehingga pada akhirnya ia mengakui kebesaran Tuhanya bukan hanya dengan iman tetapi juga amal dan berbagi. Ramadhan mengembalikan Alika pada satu titik meskipun ia harus kehilangan ibunya tetapi menyadarkanya banyak tentang arti untuk apa ia hidup.
Bahwa siraman Rohani selama ramadhan menyadarkanya bahwa bagaimana seharusnya menjadi seorang muslimah.Bahwa bagaimana seharusnya hidup dalam aturan Allah di bumi Allah.Bahwa di setiap kesullitan pasti terselip kemudahan juga tidaklah Allah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.Keajaiban yang membawanya untuk tidak jadi mengakhiri hidup dan bangkit dari keterpurukan juga bertepatan dengan bulan keagungan Ramadhan menjadikan malam Alika selalu bersujud penuh harap. Sampai kebaikan yang selalu membawa kebaikan mengantarkanya bertemu dengan sesosok lelaki yang mengajaknya menuju hubungan yang dihalalkan Allah dengan proses taaruf dilanjutkan dengan khitbah dan menikah. Proses bangkit sungguh tidaklah mudah tetapi Alika menemukan jalan Allah kembali dan Allah memberikanya segala kebaikan bagi setiap hambaNya yang dikehendaki. Maha Besar Allah diatas segala-galanya.
















0 komentar:

Posting Komentar